Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Abu Hanifah Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) menggelar Kajian Immawati dengan tema “Perempuan Harus Sempurna? Membongkar Patriarki, Standar Kecantikan, dan Budaya Validasi di Era Digital.” Kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus 2 UMLA, Senin, (28/09).
Kajian ini menghadirkan Riza Apriliana, S.H.I., S.Pd., Gr. sebagai pemateri. Kegiatan menjadi ruang diskusi bagi para peserta untuk membahas berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan perempuan, mulai dari budaya patriarki, standar kecantikan, hingga budaya validasi yang berkembang di era digital.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak untuk melihat kembali berbagai standar dan ekspektasi yang kerap dilekatkan kepada perempuan. Pembahasan juga mendorong perempuan untuk lebih mengenali, menghargai, dan menerima dirinya tanpa harus terus-menerus memenuhi standar yang dibentuk oleh lingkungan maupun masyarakat.
Ketua Bidang Immawati PK IMM Abu Hanifah, Zahirotul Bahiroh, menyampaikan bahwa Kajian Immawati menjadi ruang untuk berhenti sejenak, berdiskusi, sekaligus melihat persoalan perempuan dari sudut pandang yang berbeda.

“Kajian Immawati menjadi ruang untuk berhenti sejenak, berdiskusi, dan berani melihat diri dari sudut pandang yang berbeda. Dari pembahasan tentang patriarki, standar kecantikan, dan budaya validasi, kita belajar bahwa menjadi perempuan bukan tentang memenuhi ekspektasi semua orang, melainkan tentang mengenal, menghargai, dan menerima diri sendiri,” ujar Zahirotul.
Ia menambahkan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan, menyampaikan pemikiran, serta menjalani proses kehidupan dengan caranya masing-masing. “Kajian ini mengingatkan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihannya, menyampaikan pikirannya, dan menjalani prosesnya dengan caranya sendiri,” lanjutnya.
Zahirotul berharap diskusi yang telah dilakukan tidak berhenti sebagai percakapan dalam forum, tetapi dapat menjadi bahan refleksi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga apa yang dibicarakan kemarin tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi menjadi refleksi yang membawa perubahan kecil dalam cara kita memandang diri dan sesama,” ungkapnya.
Menurutnya, perempuan tidak harus menjadi sempurna untuk memiliki nilai. Setiap perempuan dapat terus belajar, berkembang, dan menerima dirinya dalam setiap proses yang dijalani.
“Karena perempuan tidak harus sempurna untuk menjadi berharga. Cukup menjadi diri sendiri, terus belajar, dan tumbuh dengan penuh makna,” pungkasnya.
Kegiatan Kajian Immawati ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi yang mendorong perempuan untuk lebih kritis dalam melihat berbagai konstruksi sosial di sekitarnya, serta membangun cara pandang yang lebih menghargai diri sendiri dan sesama.
Penulis : Ridhotul Ummah
Editor : Fadel Al Ahmed Valentilano
