AI & Mahasiswa: Bijak Menggunakan AI

UmlaNews

Ribuan mahasiswa baru yang tengah mengikuti Mastama (Masa Ta’aruf Mahasiswa) 2026 di Universitas Muhammadiyah Lamongan mendapat “oleh-oleh” tak biasa untuk mengawali kuliah: kelas dadakan soal kecerdasan buatan lewat sesi bertajuk “AI & Mahasiswa: Bijak Menggunakan AI”. Sesi ini digelar sebagai bagian dari rangkaian Mastama 2026 yang mengusung slogan besar “Connect, Grow, Impact”, dengan Wawan Teguh Afriyanto, Kepala Bidang Aptika Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lamongan, tampil sebagai pemateri.

Acara turut dihadiri jajaran petinggi kampus, mulai dari Rektor UMLA Prof. Dr. A. Aziz Alimul Hidayat, Ketua BPH UMLA Drs. H. Muntholib Sukandar, Ketua PDM Lamongan Dr. H. Shodikin, Ketua Panitia Mastama Suyitno, hingga Presiden Mahasiswa UMLA Hafid Nurdin.

Dari Koran ke Chatbot

Wawan membuka materinya dengan perbandingan yang cukup mengena buat anak muda: kalau dulu orang cari informasi harus buka koran atau majalah, sekarang tinggal ketik di kolom chat. Perubahan ini, katanya, terjadi cepat sekali—baru 10 sampai 15 tahun tapi lanskapnya sudah berbeda total.

Ia menyebut beberapa nama yang sudah akrab di telinga mahasiswa: ChatGPT, Claude, Meta AI, sampai Canva dan CapCut yang biasa dipakai bikin desain atau edit video tanpa harus jago desain grafis dulu. Bahkan hal-hal yang jarang disadari sebagai “AI” pun ikut disinggung—Google Maps yang menuntun jalan, algoritma YouTube dan TikTok yang tahu selera tontonan penggunanya, sampai filter kamera HP yang bikin foto lebih mulus.

Boleh Dipakai, Asal Jangan Ditelan Mentah-mentah

Poin yang paling ditekankan Wawan bukan soal canggihnya AI, tapi soal batasnya. Menurutnya AI itu enak dipakai buat bantu-bantu, tapi bukan berarti hasilnya bisa langsung dipercaya begitu saja. Ia mengajak mahasiswa membiasakan diri mengecek ulang jawaban AI sebelum dipakai, apalagi untuk tugas kuliah.

“Yang mengambil keputusan tetap kita sendiri, bukan mesin,” kira-kira begitu pesan yang berulang kali ia sampaikan. Baginya, AI paling pas diperlakukan sebagai asisten yang meringankan pekerjaan, bukan otak pengganti yang menentukan segalanya.

Banjir Informasi dan Bahaya Hoaks

Di luar sisi manfaat, Wawan juga menyoroti masalah yang justru makin runyam gara-gara teknologi: derasnya arus informasi sampai bikin bingung mana yang penting, dan gampangnya hoaks menyebar lewat media sosial. Ia meminta mahasiswa membiasakan diri menyaring dulu setiap berita atau konten sebelum ikut membagikannya—sekali forward tanpa cek fakta, katanya, bisa merugikan orang lain.

Ia juga mengingatkan soal risiko kecanduan teknologi. Kalau semua serba dipasrahkan ke AI tanpa sikap kritis, yang hilang bukan cuma waktu, tapi juga kemampuan berpikir mandiri—sesuatu yang menurutnya justru paling dibutuhkan mahasiswa ke depan.

Belajar dari Zoom Waktu Pandemi

Sebagai contoh nyata, Wawan mengangkat kembali masa pandemi COVID-19, saat aplikasi seperti Zoom mendadak jadi kebutuhan pokok agar kuliah tetap jalan meski dari rumah. Menurutnya, momen itu jadi bukti bahwa siapa yang cepat beradaptasi dengan teknologi baru, dialah yang lebih siap menghadapi situasi apa pun—termasuk perubahan-perubahan yang datangnya tiba-tiba dan tak terduga.

Bijak, Bukan Bergantung

Menutup sesinya, Wawan mengajak para mahasiswa baru UMLA untuk tidak alergi terhadap teknologi, tapi juga tidak lantas menyerahkan segalanya ke AI. Gunakan secukupnya untuk mendukung proses belajar dan mengasah keterampilan, sembari tetap menjaga kemampuan berpikir sendiri agar tidak tergantikan oleh mesin.

Materi ini menjadi salah satu bekal awal yang diberikan kampus kepada mahasiswa baru, sejalan dengan tema besar Mastama 2026 yang ingin mencetak mahasiswa yang tak sekadar melek teknologi, tapi juga cermat memilahnya.

 

Penulis : Muhammad Alvizal Hendraditya Wibawa

Editor : Fadel Al Ahmed Valentilano